Kerinci, Batik Jambi, dan Tempoyak: Tiga Pilar Ekonomi Digital Provinsi Jambi
Taman Nasional Kerinci Seblat seluas 1,4 juta hektare menyimpan potensi ekowisata besar, tetapi okupansi hotel di Jambi baru mencapai 45% karena minimnya promosi digital.
Oleh Tim Editorial BWB
·

Provinsi Jambi, dengan populasi lebih dari 3,7 juta jiwa, memiliki tiga pilar ekonomi yang unik: Taman Nasional Kerinci Seblat — hutan hujan tertua di dunia yang menjadi Warisan Dunia UNESCO, Batik Jambi dengan motif flora dan fauna khas, serta kuliner tempoyak dan gulai ikan patin yang mendunia. Sayangnya, promosi digital masih menjadi titik lemah. Sebagian besar pelaku usaha di Jambi belum memanfaatkan website sebagai etalase bisnis utama.
Ekowisata Kerinci Seblat
Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) menawarkan trekking ke puncak Gunung Kerinci (3.805 mdpl), melihat bunga Rafflesia, dan menjelajahi Danau Gunung Tujuh. Potensi ekowisata ini sangat besar, tetapi paket tur sebagian besar masih dipasarkan secara manual. Website operator tur dengan informasi jalur pendakian, paket lengkap, sistem booking, dan galeri foto bisa menarik wisatawan mancanegara yang selama ini lebih memilih mendaki di Sumatera Barat atau Lombok.
Batik Jambi: Warisan yang Mendunia
Motif Batik Jambi seperti kapal sanggat, durian pecah, dan merak ngeram memiliki ciri khas berbeda dari batik Pekalongan atau Solo. Pengrajin batik di Kelurahan Mudung Laut, Pelayangan, perlu website yang menampilkan koleksi, filosofi motif, dan sistem pemesanan custom. Dengan website, mereka bisa menjangkau pecinta batik di Eropa dan Asia yang sangat menghargai batik otentik.
Tempoyak dan Industri Kuliner
Tempoyak — fermentasi durian — adalah ikon kuliner Jambi yang mulai dikenal wisatawan. Produk olahan seperti tempoyak siap makan, sambal tempoyak, dan keripik durian sangat potensial dijual online. Website katalog produk dengan informasi rasa, cara penyajian, dan sistem pengiriman nasional bisa mengubah makanan tradisional menjadi oleh-oleh yang diburu wisatawan.
Teh Kayu Aro dan Perkebunan
Perkebunan teh Kayu Aro di kaki Gunung Kerinci adalah salah satu perkebunan teh tertua di Indonesia, dengan pemandangan yang Instagramable. Potensi agrowisata ini bisa dipasarkan lewat website yang mengintegrasikan paket wisata kebun teh, penginapan, dan produk teh langsung dari produsen.